Abu Nawas : Menangkap harimau berjenggot

Harimau berjenggot

"Wahai, Abu Nawas. Aku ingin supaya engkau menghadirkan seekor harimau berjenggot ke hadapanku, jika engkau gagal maka hukuman mati menantimu" seru raja Harun Al-Rasyid kepada Abu Nawas.

Ucapan singkat, namun berat terdengar oleh Abu Nawas. Raja ingin membalas perlakuan Abu Nawas yang telah dianggap mempermainkannya, tempo hari.

"Baiklah, tuanku," jawab Abu Nawas secara tegas.
"Perintah paduka akan segera hamba laksanakan, tapi untuk yang satu ini saya mohon tenggat waktu 8 hari.".

"Baiklah, aku memberimu waktu" jawab raja.

Abu Nawas pulang ke rumah.
"Kali ini aku harus sangat berhati-hati." Gumamnya dalam hati.


Tiba di rumahnya, ia memanggil 4 orang tukang kayu dan disuruhnya untuk membuat kandang harimau. Dalam waktu 3 hari saja, kandang telah siap.

Abu Nawas berpesan kepada istrinya untuk memberi jamuan kepada orang berjenggot yang akan berkunjung ke rumah.

"Jika engkau mendengar aku sedang mengetuk pintu nanti, suruh orang tersebut masuk ke dalam kandang itu," pesan Abu Nawas seraya menunjuk kearah kandang macan. Kemudian Abu Nawas bergegas pergi ke Masjid sambil membawa sajadahnya.

"Baik, suamiku" kata istrinya.

"Hai Abu Nawas, tidak biasanya engkau sholat di sini?" Imam dan penghulu masjid bertanya kepadanya.

"Sebetulnya aku hendak menceritakan masalah  ini kepada orang lain, tapi menurut saya tiada yang lebih tepat selain kepada tuan penghulu" jawab Abu Nawas.
"Semalam saya ribut dengan istri saya, itu sebabnya sekarang saya tidak pulang ke rumah."

"Hmm, Pucuk dicinta, ulam pun tiba," fikir penghulu dalam hati. "Biarkan saja, Abu Nawas menginap di sini dan aku bisa pergi ke rumahnya untuk menemui istrinya, sudah begitu lama aku menaruh hati kepada wanita cantik itu."

"Abu Nawas, Jika engkau berkenan, aku akan menyelesaikan perselisihanmu dengan istrimu" penghulu menawarkan bantuan.

"Silahkan, jika kau sanggup" jawab Abu Nawas.
"Saya akan sangat berterima kasih atas kebaikan anda."

Penghulu segera pergi ke rumah Abu Nawas dengan hati berbunga-bunga. Penuh wajah berseri-seri, diketuklah pintu rumah Abu Nawas. Setelah pintu terbuka, ia pun segera mendekati istri Abu Nawas dan diajaknya untuk duduk bersanding.

"Duhai, Adinda, apa gunanya kau memiliki suami yang jahat dan miskin, dan lagi suamimu hidup tak karuan. Sebaiknya kau jadi istriku saja, hidup bahagia dan tidak kekurangan apa pun." kata penghulu.

"Begitukah keinginan tuan?" sahut istri Abu Nawas.

Tidak begitu lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Suara ketukan itu membuat penghulu belingsatan,
"Hah, kemana aku harus bersembunyi?" tanya panghulu kepada istri Abu Nawas.

"Silahkan tuan bersembunyi di dalam kandang itu," jawab istri Abu Nawas sambil menunjuk ke arah kandang yang terletak di kamar Abu Nawas.

Tanpa bisa berfikir panjang lagi, penghulu pun masuk ke dalam kandang, kemudian ia menutupnya dari dalam.

Istri Abu Nawas langsung membukakan pintu, sambil menengok ke arah kiri-kanan, segera Abu Nawas masuk ke rumah.

"Hai istriku, apa yang ada di dalam kandang itu.?" tanya Abu Nawas kepada istrinya.

"Oh, Tidak ada apa-apa kok," sahut istrinya.

"Terus, putih-putih itu?" selidik Abu Nawas, dan dilihatnya penghulu sedang gemetar karena ketakutan.

Selang 8 hari, Abu Nawas memanggil 8 orang kuli untuk memikul kandang macan itu ke Istana. Di istana, orang-orang telah ramai dan heboh karena ingin menyaksikan Harimau berjenggot.

Seumur hidup mereka, jangankan melihat, mendengar harimau berjenggot saja baru kali ini. Sekarang beritanya, Abu Nawas mendapatkan seekor harimau tersebut. Mereka sangat kagum atas kehebatan Abu Nawas. Namun, setelah dilihat penghulu di dalam kandang, orang-orang pun tidak bisa berkata apa-apa selain mengiringi kandang hingga ke istana dengan arak-arakan yang panjang. Penghulu merasa malu bukan main. Ibarat arang di wajah, kemana hendak disembunyikan?. Beberapa saat kemudian iring-iringan telah tiba di istana.

"Abu Nawas, bagaimana kabarmu?" tanya Baginda raja,
"Apa engkau sudah berhasil menangkap harimau berjenggot?"

"Berkat doa tuanku, Alhamdulillah sudah berhasil," jawab Abu Nawas.

Kandang beserta isinya dibawa ke hadapan raja. Ketika raja hendak melihat kearah harimau, si penghulu segera memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah merah padam penuh rasa malu, namun kemana pun ia menoleh, kesitu juga raja memelototkan matanya. Raja mendadak menggeleng-gelengkan kepalanya penuh takjub, karena menurut penglihatan beliau, seorang yang ada di dalam kandang itu adalah penghulu masjid. Abu Nawas segera menimpali,

"Benar, tuanku. Yang tuan saksikan adalah Harimau berjenggot."

Namun, raja tidak segera tanggap, beliau berfikir sesaat,
"Mengapa penghulu ini dikatakan sebagai harimau berjenggot?"

Kemudian raja bergoyang ke kiri dan kanan seperti orang yang sedang berdoa.

"Perlukah saya beritahukan, kenapa saya dapat menangkap seekor harimau berjenggot di rumah saya sendiri ?" Ucap Abu Nawas.

"Ya, ya," jawab raja sambil menoleh ke arah kandang dengan mata yang berapi-api. "Ya aku sudah faham, kini"

Bukan main murka sang raja kepada penghulu, karena ia yang seharusnya menegakkan hukum, justru melanggarnya dan berkhianat. Raja segera memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan penghulu dari kandang harimau. Raja memerintahkan untuk mencukur rambut penghulu dengan bentuk segi empat, lalu mengaraknya keliling pasar, agar diketahui oleh seluruh rakyat hukuman bagi orang yang telah berkhianat.

Semoga penegak hukum di negri kita tidak seperti kisah diatas. Amin YRA.

Sumber: http://teguhtriatmojo.blogspot.com/2014/12/abu-nawas-menangkap-harimau-berjenggot.html



Baca juga kisah Abu Nawas yang lainnya disini



0 Response to "Abu Nawas : Menangkap harimau berjenggot"

Post a Comment

Berikan komentar dan masukan anda agar kedepan bisa menjadi lebih baik. Thanks