One Piece chapter 825 - Kolom komik WE Times

Alur cerita One Piece chapter 825 versi teks bahasa Indonesia

Gambar cover One Piece chapter 825 adalah kelanjutan cerita kecil tentang laki-laki seharga 500 juta belly volume enam belas dengan judul ''Weatheria - When we next see Nami-chan, I want her to tell we're lookin stylish''. Dari dek dunia, cerita kecil kali ini tentang Haredas dan tua bangka lainnya yang ada di pulau langit Whateria. Whateria merupakan pulau langit yang diterbangkan oleh angin, dan suatu waktu perlu juga turun ke Blue Sea untuk mengumpulkan suplay dan informasi agar bisa melanjutkan perjalanan. Tampak dalam gambar, Haredas dan tua bangka lainnya mengubah gaya pakaian mereka untuk menunjukkan pada nami-chan bahwa mereka masih muda. Nami berlatih disini setelah diterbangkan oleh Kuma dari pulau Shabondy. Di pulau ini, Nami berlatih dan belajar pada Haredas tentang ilmu cuaca.

Yups, silahkan disimak kelanjutan cerita petualangan Luffy dkk di One Piece chapter 825. Selamat membaca.

Cover one piece 825

Penulis artikel : versiteks.com


"Kapal... Kapal..."

Kapal besar Big Mom bernyanyi dengan riangnya. Di atasnya, masih ada Sanji serta orang-orang Big Mom. Tak hanya Tamago dan anak buah Bege, ada juga prajurit-prajurit berseragam khusus, berbaris maju sambil menggenggam tombak berujung hati. Tentara kue.

Tampak juga beberapa kru yang sibuk bolak balik membawa kado, kotak berbalut pita cantik yang sama besarnya dengan tubuh yang bawa.

"Nyororororo..." Vito berjalan mengikuti Sanji sambil bercerita soal Germa 66. "Di koran dunia World Economic Times, ada cerita bergambar dengan robot besar hebat di dalamnya. Sora si Kesatria Lautan, aku sudah membacanya dari dulu sekali sampai lupa tepatnya kapan. Pahlawan yang mampu berjalan di atas laut, Sora, yang ditemani oleh robot dan burung camar-rerorero..."

"Bertarung dengan tentara iblis Germa 66!!"

"Itu merupakan cerita pahlawan lautan!! Dan fansnya tersebar di seluruh dunia!! Nyorororo!! Dari yang kudengar, cerita itu diadaptasi dari kisah nyata kisah nyata pahlawan-pahlawan Angkatan Laut. Pada dasarnya, itu adalah usaha mereka untuk mencuci otak anak-anak...!! Membuat anak-anak berpikir kalau Angkatan Laut itu selalu menegakkan keadilan dan merupakan yang terkuat!! Nyorororo!! Tapi aku malah tidak tertarik sama sekali dengan mereka!!"

"Aku malah lebih mendukung Germa!!" Vito terus bicara dengan penuh semangat. "Pasukan iblis yang terus menerus berusaha untuk menangkap dan mengalahkan Sora! Tapi tentu saja, di cerita mereka selalu kalah. Tapi aku terus mendukung mereka, Aku mendukung timmu!!"

"Jangan ikut-ikutkan aku dengan mereka!!" bentak Sanji.

"Oh ayolah, jangan bicara begitu.." ucap Vito. "Jujur saja, aku sangat gembira saat bisa bertemu salah seorang dari mereka secara langsung.."

"Kenapa tak pergi saja mencari Prajurit Iblis itu? Kau pasti meledak saking senangnya.." ucap Sanji ketus.

Sanji dan Vito terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan pintu besar, yang hampir tiga kali tinggi Sanji. Dan pintu itu hidup. Wajah yang terlihat seperti orang baru bangun tidur muncul di pintu ketika Sanji menyentuhnya.

"Oi!! Buka pintunya!!" Sanji mengetuk.
Pintu pun terbuka sembari bernyanyi, "Pintu...."

Sanji masuk ke ruangan itu sementara Vito terus bersamanya, "Yah, kau tahu sendiri kan..."

"Jangan terus menerus kemari!! Ini adalah kamar pribadiku!!" bentak Sanji.

"Dan ini merupakan kamarku juga!!" bentak Caesar, yang terkurung dalam sangkar kecil di ruangan itu. "Keluarkan aku dari sini!!" bentak Caesar. "Sial, apa kalian tak merasa kalau perlakuan terhadapku jauh berbeda!? Aku ini ilmuan jenius, kau tahu!!"

"Hah, masih saja mengeluhkan hal tak penting seperti itu.." ucap Vito. "Caesar, kami hanya diperintahkan untuk menangkapmu. Di sisi lain," Vito melihat Sanji, "Orang ini akan menghubungkan Keluarga Vinsmoke dan Charlotte, dia jauh lebih berharga!! Nyororo..."

"Aku tak akan menikah!! Cepat, pergi sana sialan!!" bentak Sanji.

"Pergi!? Orang ini sudah bicara kasar pada Vito..." ucap salah seorang anggota Bajak Laut Firetank, Pembunuh, Gotti. Gotti tiba-tiba muncul dan memandang Sanji dengan tatapan sinis. Tubuhnya besar, tangan kiri menggenggam rantai sementara tangan kanannya telah dimodifikasi dengan senapan mesin.

Gotti kesal pada Sanji karena telah bicara kasar pada Vito.

"Hei Hei, Gotti!! Tunggu!!" Vito mencoba untuk menghentikannya. "Ini bukan masalah besar!! Tak apa, ia cuma bercanda..."

Goti masih mengarahkan tangan mesinnya ke Sanji, yang duduk santai sambil menghisap rokok di atas sofa empuk.

"Aku tidak bercanda!! Gotti, Vito, kalian berdua cepat enyah sana!!" bentak Sanji lagi.

Gotti jadi makin marah, "Coba katakan itu sekali lagi keparat!!" ia menodongkan tangan senapannya ke wajah Sanji, "Awas kalau kau berani bicara kasar pada teman-temanku lagi!!"

"T-Tunggu, maafkan dia, Gotti!!" ucap Vito.

"Yang tak bisa dimaafkan itu adalah menikah dan menjadi teman orang-orang seperti kalian!!" ucap Sanji, yang makin membuat Gotti kesal.

Vito tak bisa menghentikan Gotti, tapi kemudian, seorang perempuan muncul dan menghentikannya. "Gotii...!!"

Prempuan seksi mirip Lola muncul dan membentak Gotii, "Apa kau tak tahu dia itu siapa!? Dia adalah anak dari Keluarga Vinsmoke!! Apa kau tak tahu kalau kau menggoresnya sedikit saja, bos akan dihabisi dalam waktu sekejap!?" perempuan itu lalu menjewer kuping Goti dan membawanya pergi jauh-jauh, "Atau kau mau kuhabisi sekarang juga!?"

"Maaf... Maafkan aku, Nyonya!! Maafkan aku.." ucap Gotti.

"Nyororo, maafkan aku juga, ayo kita bicarakan tentang Germa lagi lain kali..." ucap Vito lalu ikut pergi.

"Sudah cukup.." bentak Sanji.

"Tapi, kelihatannya..." ucap Sanji pelan, "Sesuatu mengingatkanku pada mereka."

Beberapa hari kemudian, Thousand Sunny...

Mereka berada di atas lautan yang begitu panas. Matahari amat terik hingga kulit Luffy, Chopper, Pedro, dan Brook yang sedang memancing berubah keriput. Oh iya, Brook nggak punya kulit.

"Tak tahan lagi..."
"Aku akan mati... Terlalu panas..."

Tak hanya kepanasan, Luffy dan teman-temannya masih kelaparan, sampai-sampai untuk bicara normal saja susah.

"Aku... Me..uap... Makan... Sanji.. Ee..."
"Panas sekali... Aku ingin membuka buluku..." ucap Chopper.
"Kami... Suku Mink... juga lemah dengan panas..." ucap Pedro.

"Panas sekali... ya... Kalau begini terus bisa-bisa aku jadi mumi..." ucap Brook. "Mumi...? Ah, hei, Nami, bukankah itu akan tampak seperti pembangkitan kembali? Tapi sesuai jalanku?"

"Aku tak peduli!" bentak Nami.

Ia dan Carrot berteduh di balik tembok, sama-sama kepanasan dan kelaparan.

"Nami-san..." Brook memanggil Nami lagi, "Apakah sekarang waktu yang tepat untuk kau mengizinkan aku melihat sekilas celana dalammu?"

"Haah... Aku bahkan tak punya energi untuk menendangmu..." ucap Nami.
"Nami... Panas sekali... Aku kelaparan..." ucap carrot. "Aku butuh nutrisi..."

Pekoms yang belum sembuh betul tiduran tak jauh dari Nami.

"Kita kehabisan makanan, kita melewati badai tiap hari, kita belum menangkap satu ikan pun.. Akhirnya sekarang cuaca cerah, ayo memancing sebelum cuacanya berubah lagi!! Dan sebelum kita semua... Mati kelaparan..."

Nami yang meminta pada mereka berempat untuk memancing, tapi dari tadi belum ada hasil sama sekali.

"Kami juga ingin cepat makan, tapi... Nami... Lautnya terlalu panas... Bahkan sampai mendidih...!!"

"Tak akan ada ikan yang datang... Lapar sekali..." Luffy menatap Chopper.
"Lihat apa kau, hah!? Aku bukan daging konsumsi!!" bentak Luffy.

Kemudian Pedro tiba0tiba saja berteriak, "Luffy!! Umpanmu ditarik!!"

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada ikan yang memakan umpan mereka. "Makanan...!!" Luffy bersemangat dan langsung menariknya.

"Tarik, Luffy!!"
"Oooohhh!!!"
"Berjuanglah, Luffy!!!!"
"Luffy-san, semangat...!!!!"

Akhirnya, ikan pun berhasil ditangkap. Ikan besar dengan warna yang agak aneh. "Makanan!!" jerit semuanya. "Horeee!!!"

"Gao..!!" Pekoms menjulurkan lidahnya.

"Besar sekali!!!" jerit Brook.

"Uwaaa, tapi apa warnanya tak terlalu aneh!? Apa ikan ini benar-benar bisa dimakan!?" ucap Chopper. Tapi Luffy sudah tak sabar untuk langsung memakannya. "Luffy, tunggu sebentar!!" teriak Chopper.

"Aku akan mengeceknya terlebih dahulu!!"
Chopper kemudian pergi untuk mencari buku masak Sanji.
"Di mana sih Ensiklopedia ikan ini... Ya ampuk, rak Sanji isinya majalah porno semua... Ah, ketemu!!"

Ketemu, Chopper pun kembali, "Luffy!! Hati-hati dengan kulitnya!! Kulitnya beracun!! Lihat, di buku Sanji tertulis..."

Sayang sekali Chopper terlambat. Luffy sudah terlebih dahulu memakan kulit ikan besar itu. "Kulitnya enak sekali!!" ucap Luffy. "Hei, Carrot, sini cobalah sedikit!! Rasanya... berlendir..."

"Luffy!!!"

Sementara yang lain bisa memakan ikan itu dengan benar karena Chopper mengolahnya sesuai prosedur, Luffy malah keracunan.

"Enak!! Enak sekali, Nami!!" ucap Carrot.
"Itu karena aku memasaknya sesuai catatan Sanji..."

"D... Dingin..." ucap Luffy, padahal cuaca panas.

"L-Luffy akan mati...!!" teriak Chopper sambil bercucuran air mata.
"Chopper, kau harus menenangkan dirimu..." ucap Nami.

Chopper sedih. "Aku dag... puma.. cukub... obad-obadan.... Kita harus cepat menemukan pulau, Nami..."

"Aku paham kalau kita harus cepat-cepat menemukan pulau, tapi... Bukankah tertulis kalau racunnya dapat mematikan dalam waktu singkat!? Tapi dia masih hidup... Ah, benar juga, Luffy itu kebal terhadap racun, kan?"

"Luffy... Dia bisa mati?" ucap Carrot.

"Aku... Baik-baik... saja... aku melihat... sebuah lorong yang bercahaya..."
"Jangan pergi ke lorong itu, Luffy!!!"

...

Kondisi Pekoms sudah cukup baik, ia pun merobek perban-perban yang membalutnya. "Beberapa hari sudah berlalu, Sanji si Kaki Hitam pasti sudah sampai di pulau. Kurasa, sekarang kita sudah hampir mencapai wilayah kekuasaannya..."

"Wilayah kekuasaan?"

Kemudian, salju tiba-tiba saja turun..
"Eh? Salju? Rasanya sedikit berbeda... Manis?"

"Ya, sebenarnya itu permen dari awan permen kapas.."
"Permen kapas!?" Chopper bersemangat.

Keong laut teritorial, makhluk itu hidup di laut dan mengirim sinyal hingga membuat denden mushi berdering..
"Pirurururu!!"

"Oh, siapa yang memanggil dengan Denden Mushi?"
"Itu adalah tanda peringatan karena kita telah memasuki wilayah kekuasaan Big Mom.. Kalian harus bersembunyi atau menyamar!!" ucap Pekoms.

Sementara Chopper masih asyik dengan permen itu, "Permen kapas... Manis!!"

...

Dari atas Sunny, Pedro mengawasi kejauhan, "Aku baru saja melihat sesuatu, Pekoms.."
"Cepat sekali, jadi mereka sudah sampai ya..."

"Itu adalah kapal pengintai-gao!! Aku akan berusaha sebisa mungkin mengikuti prosedur yang ada, kalian tenanglah..."

"Mungkin mereka punya obat penawar..." ucap Chopper.

"Eeh!?" Pekoms kaget. Makin dekat kapal itu, akhirnya ia sadar. Itu bukanlah kapal pengawas seperti yang ia pikir.

"Ini Germa 66, kami melihat kapal Topi Jerami!!"

"Tidak!!" ucap Pekoms. "Itu kapal Germa 66!!"
"Eeh...!?"

Akhirnya, mereka memunculkan diri!! Seluruh keluarga Sanji...? Seorang pria beralis keriting memandang ke arah Sunny dengan tatapan mengancam.

Siapakah pria bertudung dan memakai kacamata hitam dengan alis keriting seperti Sanji? Apakah itu kakak Sanji ataukah pemimpin Germa 66 alias ayah Sanji? Lalu apakah mereka akan menyerang kru Mugiwara?  Kita nantikan cerita selanjutnya di One Piece chapter 826.

Chapter 825 END

My Partner Blog : Gemza, Versi teks, Mangaku
Situs download : Web Informasi

Silahkan di bookmark blog ini untuk mendapatkan postingan update tentang One Piece dan bantulah admin dengan men-share artikel ini kepada teman-teman Anda. Terima kasih.


Baca online One piece chapter 825
Download One piece chapter 825


Baca juga chapter One Piece yang lain disini



0 Response to "One Piece chapter 825 - Kolom komik WE Times"

Post a Comment

Berikan komentar dan masukan anda agar kedepan bisa menjadi lebih baik. Thanks